Selasa, 11 Januari 2011

SEMBAHYANG XIA YUAN


Oleh: Ws. Darmadi Slamet B. Sc.

Sembahyang XIA YUAN dilakukan pada tanggal 15 bulan X Imlek sebagai saat mengucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Sembahyang panen terakhir menjelang musim dingin tiba di belahan bumi bagian utara, adalah merupakan tradisi bagi masyarakat agraris. Sejak jaman dahulu melakukan ritual atas hasil panen yang berlimpah, bukan hanya dilakukan oleh umat Khonghucu saja, melainkan juga dilakukan oleh masyarakat agraris di berbagai tempat, antara lain di Amerika yang dikenal dengan istilah Thanksgiving yang dilaksanakan pada hari Kamis minggu ke-4 di bulan November, sedangkan di Kanada Thanksgiving dilakukan pada hari Senin minggu ke-2 di bulan Oktober, yang mana merupakan Harvest Festival, guna menyampaikan puji syukur dan terima kasih atas panen berlimpah karunia TuhanYang Maha Esa.

Seiring perkembangan jaman, aktivitas manusia semakin meluas, terutama bagi masyarakat perkotaan, yang tidak hanya menjalankan kegiatan pertanian atau pengolahan lahan, melainkan meluas memasuki sektor perdagangan, industri atau bahkan jasa, yang mana sepintas memang nampak tidak berhubungan langsung dengan alam, akan tetapi, sesungguhnya kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dengan alam lingkungan selaku habitat, tempat tinggal, yang melambangkan sempurnanya karunia Tuhan atas alam dan segenap mahluk hidup. Maha Kasih Tuhan yang dipancarkan lewat semesta alam, bumi dengan kesuburannya, sehingga segenap mahluk terpelihara, matahari, bulan, dan bintang tertib beredar, musim silih berganti. Semuanya menunjukkan Maha Mulia dan Maha Abadi hukum Tuhan, menjadikan manusia insan berbudi sadar untuk satya dan berbakti, sadar akan kewajiban melaksanakan ibadah dan tekun melakukan sembahyang.

Sembayang terkait dengan alam semesta, berhubungan dengan SAN GUAN, yaitu TIAN GUAN, REN GUAN, dan DI GUAN (Tuhan, Manusia, dan Alam Semesta). Sebagaimana kita ketahui bahwa sembahyang yang berhubungan dengan alam semesta sepanjang tahun terdapat 3 tahap, yaitu:

1.     SHANG YUAN, pada tanggal 15 bulan I YIN LI
Sebagai sembahyang mulai siklus kehidupan tahunan dengan mulai bercocok-tanam. Dalam hubungan dengan TIAN GUAN, yaitu mohon petunjuk Tuhan Yang Maha Esa agar dapat bekerja dengan bijak, jauh dari segala rintangan, SHANG YUAN disebut pula YUAN XIAO JIE, yang mana masyarakat saat ini lebih menitikberatkan sebagai acara penutupan tahun baru Imlek, dengan hidangan ayam opor & lontong, yang disebut LONTONG CAP GOMEH, dan berbagai acara perayaan, atraksi kesenian, lomba karaoke, dll, yang justru semakin jauh dari makna SHANG YUAN yang sesungguhnya.

2.     ZHONG YUAN, pada tanggal 15 bulan VII YIN LI
Sebagai sembahyang kepada arwah leluhur. Sujud hormat kepada leluhur dan sanak keluarga yang telah mendahului amat penting untuk menuju dan merawat semangat berbakti yang menjadi pokok tumbuhnya berbagai benih-benih kebajikan sebagai bekal modal dasar dalam pengelolaan bumi yang meliputi kehidupan sosial dunia maupun akhirat. Dalam tata masyarakat yang semakin berkembang di tengah siklus kehidupan tahunan, seringkali dikatakan bahwa bulan VII adalah bulan Setan. Ritual ZHONG YUAN bukanlah ritual kepada setan, melainkan penghayatan serta penunjukan rasa cinta kasih kepada sesama, mohon petunjuk kepada leluhur sekalipun telah jauh, dan rasa bakti mendekatkan kita satu sama lain dalam memperoleh bimbingan Tuhan  Yang Maha Esa.
Kepada manusia yang mampu membina diri, menempuh jalan suci, kepadanyalah diturunkan segala berkat dan beroleh kesempurnaan dan keselamatan hidupnya, baik kini maupun setelah kehidupan ini, karena beroleh jalinan yang indah kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia, yang mana manusia adalah mahluk sosial yang hidup saling tolong-menolong, saling melengkapi satu sama lain. Jangan sampai hanya demi kepentingan sesaat atau perseorangan, sampai merusak alam, merusak tata kehidupan yang ada. Hendaklah manusia selalu mawas diri, bagaimana para leluhur yang telah mewariskan alam kepada kita, yang selanjutnya kita berkewajiban untuk menjaga dan menyerahkan kepada anak cucu.

3.     XIA YUAN, pada tanggal 15 bulan X YIN LI
Sebagai sembahyang panen terakhir menjelang musim dingin. Sebagai ungkapan rasa syukur atas segala berkah dan karunia panen terakhir tahun berjalan di akhir siklus kehidupan tahunan.
Sembahyang XIA YUAN yang melambangkan sempurnanya Tuhan dan kemurahan hati menurunkan berkah melalui alam dalam setahun, yang mana perlu dihayati hikmahnya dan dilakukan sepenuh iman diikuti oleh pelaksanaan sepenuh pengabdian dan tingkah laku berlandaskan kebajikan, yang mana akan memperoleh berkah karunia Tuhan Yang Maha Esa melalui Malaikat Bumi FU DE ZHENG SHEN, selaku malaikat utusan Tuhan pengawas dan penilik alam semesta.

Timbul pertanyaan bahwa ZHONG QIU JIE yang diperingati setiap tanggal 15 bulan VIII YIN LI adalah penghormatan bagi Malaikat Bumi FU DE ZHENG SHEN.
Manakah yang lebih bermakna bila dibandingkan dengan sembahyang XIA YUAN? Apakah keduanya memiliki makna pengertian yang sama? Apa perbedaannya?


ZHONG QIU JIE adalah salah satu ritual kepada Tuhan terkait sembahyang empat musim, semi, panas, gugur, dan dingin, yang disebut YUE CI, ZHENG, CHANG. Sembahyang CHANG atau ZHONG QIU JIE dilaksanakan pada saat alam semesta dalam kedudukan yang harmonis, sehingga dipercaya sebagai keadaan dengan aura terbaik untuk memanjatkan doa dan harapan, juga dibarengi dengan ungkapan syukur pada alam semesta, terutama bumi yang telah memberi wahana penunjang kehidupan. Sebagai ritual yang telah ada sejak jaman dahulu oleh kondisi setempat, jatuh pada pertengahan musim gugur tanggal 15 bulan VIII YIN LI. Ritual dalam kaitan azas imani FU DE ZHENG SHEN, sehingga beroleh rejeki atas kebajikan insani dalam kehidupan rohani maupun duniawi, sehingga juga diperingati hari FU DE ZHENG SHEN.

Sedangkan XIA YUAN jelas memiliki pengertian yang berbeda, tak jauh dari Thanksgiving atau Harvest Festival, yang merupakan saat ucap puji syukur atas panen yang terakhir tahun berjalan, yang mana terkait dengan alam semesta dengan tiga hubungan SAN GUAN, yaitu TIAN GUAN (Tuhan), REN GUAN (Manusia), dan DI GUAN (Alam Semesta).



---

Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN)
Khongcu Bio - Jl. Bisma No. 5 – Denpasar

---

SISTEM PENANGGALAN KHONGHUCU


Oleh: Ws. Darmadi Slamet B. Sc.

Penanggalan Khonghucu ditemukan oleh Kaisar Kuning HUANG DI yang memerintah (2698 – 2596 SM), sebagai kaisar peletak dasar kebudayaan Tionghoa. Sistem penanggalan tersebut berdasarkan peredaran matahari maupun bulan. Sebagaimana kita ketahui bahwa peredaran bumi mengelilingi matahari lamanya sekitar 365,25 hari. Satu hari adalah perputaran bumi pada porosnya sehingga terdapat perbedaan siang dan malam. Perhitungan tahun lamanya 365 hari, sedangkan kelebihan 0,25 hari per tahun digeser ke tahun berikutnya sehingga sampailah pada tahun ke-empat, sehingga terjadilah kelebihan 1 hari yang kita kenal dengan istilah tahun kabisat, yang jumlah harinya 366 hari (Bulan Februari 29 hari). Tahun kabisat dapat mudah diketahui, yaitu angka tahun habis dibagi empat.

Penanggalan Khonghucu pada mulanya dikenal dengan istilah NONG LI yang merupakan sistem penanggalan berdasarkan peredaran matahari untuk penentuan tahun, sedangkan perhitungan jumlah hari per bulannya ditentukan oleh peredaran bulan mengelilingi bumi yang lamanya 29,5 hari untuk satu kali, yang mana ditandai dengan awal bulan / tilem / bulan mati dan pertengahan bulan disebut purnama. Dengan demikian selama 12 bulan akan terdapat 354 hari. Bila dibandingkan dengan jumlah hari dalam 1 tahun akan terdapat selisih 11 hari. Untuk penyesuaian, maka setiap kurun waktu 19 tahun terdapat sisipan 7 bulan ulang (RUN YUE), yang tidak mesti bulan ke berapa sebagai RUN YUE, melainkan berdasarkan urutan patokan waktu yang disebut QI  JIE. Bila dalam satu bulan terdapat patokan waktu QI tanpa patokan waktu JIE adalah bulan ulang (RUN YUE). Satu tahun terdapat 24 hari patokan waktu yang disebut ER SHI SI QI JIE yang mana bisa maju mundur 1 (satu) hari, tergantung tahun berjalan.

ER SHI SI QI JIE / 24 Patokan Waktu

XIAO
HAN

6
Januari
DA
HAN

20
Januari
LI
CHUN

2
Februari
YU
SHUI

19
Februari
JING
ZHI

6
Maret
CHUN
FEN

21
Maret
QING
MING

5
April
GU
YU

20
April
LI
XIA

6
Mei
XIAO
MAN

21
Mei
MANG
ZHONG

6
Juni
XIA
ZHI

21
Juni
XIAO
SHU

7
Juli
DA
SHU

23
Juli
LI
QIU

8
Agustus
CHU
SHU

24
Agustus
BAI
LU

8
September
QIU
HUN

23
September
HAN
LU

8
Oktober
SHUANG
XIANG

23
Oktober
LI
DONG

7
November
XIAO
XUE

22
November
DA
XUE

7
Desember
DONG
ZHI

22
Desember

Sistem Penanggalan HUANG DI mulai luas dipergunakan pada jaman Dinasti XIA (2205 – 1766 SM) sehinggga dikenal dengan istilah XIA LI. Perhitungan hari didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi yang memiliki manfaat guna mengetahui pergantian bulan, karena secara kasat mata nampak bulan gelap / awal bulan dan bulan purnama yang mana dapat memprediksi pasang surut air laut yang sangat bermanfaat bagi nelayan maupun pemburu yang perlu memperhitungkan saat-saat yang tepat guna berburu. Disamping itu, dalam perputaran bumi mengelilingi matahari dapat mengetahui pergantian musim, iklim, angin yang berhembus termasuk curah hujan dsb, yang mana amat penting bagi masyarakat guna menentukan masa awal tanam, dan memprediksi masa panen.

Runtuhnya Dinasti XIA di tangan XIA JIE, kaisar lalim yang ingkar dari Firman Tuhan di tahun 1766 SM dan digantikan oleh Kaisar CHENG TANG yang mendirikan Dinasti SHANG (1766 – 1122 SM). Saat Kaisar TAI JIA memerintah (1753 – 1720 SM), sistem penanggalan tidak mengalami perubahan yang berarti, karena yang berubah adalah saat perhitungan tahun baru yang mana pergantian tahun dimulai saat bulan NONG LI ke-X, yang mana dianggap saat yang tepat sebagai pergantian tahun. Hal tersebut tersirat dalam Kitab SHU JING / Kitab Hikayat bagian SHANG SHU atau Kitab Dinasti SHANG jilid VI ayat 3.

Dinasti SHANG (1766 – 1122 SM) berakhir di tangan ZOU WANG yang tergoda nafsu dan ingkar dari jalan suci, membuang Firman Karunia Tuhan, menyelenggarakan pemerintahan dengan semena-mena penuh dengan berbagai tindakan kejam yang mengundang pemberontakan dan perlawanan muncul dari berbagai daerah. Salah satunya adalah perjuangan ZHOU WU WANG, putra ke-2 Pangeran Barat ZHOU WEN WANG, yang masih sabar dan setia mengabdi kepada Dinasti SHANG. ZHOU WU WANG mendirikan DINASTI ZHOU (1122 – 255 SM). Saat Dinasti ZHOU, pergantian tahun diawali saat Dong ZHI (22 Desember) sebagai tahun baru, karena matahari berada di garis balik 23,5° Lintang Selatan. Selanjutnya letak matahari mulai balik ke utara, siang hari makin panjang dan malam hari makin pendek, sekalipun masih musim dingin, sampai tiba musim semi dimana matahari dalam peredaran yang makin mendekati garis Khatulistiwa.

Nabi KHONGCU yang hidup pada zaman Dinasti ZHOU telah merasakan ketidaksesuaian permulaan pergantian tahun dengan keadaan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, saat Beliau menjawab pertanyaan salah seorang murid-Nya, GAN YAN yang bertanya bagaimana mengatur pemerintahan, Nabi bersabda, “Pakailah penanggalan Dinasti XIA” (Sabda Suci jilid XV ayat 11).

Setelah kekuasaan Dinasti Zhou melemah dan terjadi perpecahan kekuasaan, Raja Muda saling berebut untuk memperoleh kekuasaan dengan perperangan yang akhirnya dimenangkan oleh QIN SHI HUANG yang mendirikan Dinasti QIN (221 – 206 SM). Setelah Dinasti QIN runtuh berdirilah Dinasti HAN (206 SM – 220 Masehi). Pada saat pemerintahan Kaisar HAN WU DI (140 SM – 86 SM), yaitu tahun 136 SM, Agama Khonghucu ditetapkan sebagai Agama Negara Dinasti HAN, dan pada tahun 104 SM, Penanggalan XIA LI ditetapkan sebagai Penanggalan Resmi Negara, yang mana atas dasar Sabda Nabi Khongcu. Sejak saat itu XIA LI juga dikenal dengan sebutan KONG ZI LI. Karena sebagai penghormatan kepada Nabi KHONGCU, tahun kelahiran Beliau dijadikan tahun pertama (551 SM) dari KONG ZI LI. Dengan demikian saat ini bagi kita yang ingin mengetahui tahun KONG ZI LI adalah sangat mudah yaitu dengan menambahkan angka tahun dengan angka 551. Disamping itu dalam catatan sejarah atau prasasti seringkali tertulis angka tahun berdasarkan kaisar naik tahta, sehingga walau terdapat berbagai cara penulisan angka tahun, sistem penanggalan tidak berubah. Bahkan di jaman YUAN (1279 – 1368) yang dipimpin suku Mongolia ataupun Dinasti QING (1644 – 1911) dipimpin suku Mancuria. Sistem penanggalan tidak berubah hingga Dinasti QING runtuh, dan berdirilah Republik Tiongkok oleh dr. SUN ZHONG SHAN. Pada tahun 1912 resmi menggunakan Penanggalan Masehi sebagai penaggalan resmi yang bertujuan untuk penyesuaian dengan pergaulan dunia internasional. Penanggalan Masehi disebut YANG LI, sistem penanggalan yang berpedoman pada peredaran bumi mengelilingi matahari atau SOLAR SYSTEM, sedangkan XIA LI atau NONG LI masih tetap dipakai dengan sebutan YIN LI yang sering disalahartikan sebagai sistim penanggalan yang berdasarkan peredaran bulan atau LUNAR SYSTEM belaka. Sesungguhnya IMLEK memiliki hubungan yang sangat erat bagi umat Khonghucu pada khususnya dan etnis Tionghoa pada umumnya, dimana terdapat petunjuk-petunjuk tentang hari baik, maupun hari pantangan. Sebagai contoh YUE JI merupakan pantangan yaitu hari ke-5, 14, dan 23 tiap bulan. Pada hari tersebut biasanya orang menghindar untuk melaksanakan kegiatan atau peristiwa penting bagi keluarganya, seperti perkawinan, buka usaha dll. Disamping angka tahun juga terdapat nama yang diambil dari urutan TIAN GAN, yaitu:
JIA, YI BING, DING, WU, JI GENG, XIN, REN, GUI
maupun DI ZHI, yaitu:
ZI, CHOU, YIN MAO, CHEN, SI, WU WEI, SHEN, YOU, XU, HAI

Contoh tahun        2556         YI    YOU  NIAN
                            2557      BING   XU    NIAN
                            2558      DING  HAI    NIAN

HAKEKAT MAKNA PERINGATAN ZHONG QIU JIE


Oleh: Ws. Darmadi Slamet B. Sc.

Peringatan Zhong Qiu Jie telah menjadi suatu peristiwa yang menyertai umat Khonghucu maupun warga Tionghoa di seluruh dunia. Setiap tanggal 15 bulan VIII Imlek adalah saat purnama yang terindah bagi penduduk yang mendiami daerah subtropis belahan bumi bagian utara. Saat cuaca baik dan bulan sangat cemerlang, terutama masyarakat pedesaan yang bercocok tanam dalam suasana riang gembira karena berada di tengah musim panen, yang mana dihayati sebagai saat-saat yang penuh berkah Tuhan Yang Maha Esa lewat bumi yang memberi hasil berbagai biji-bijian dan buah-buahan sebagai bahan pangan, sandang, dan papan. Oleh karenanya dilakukan sembahyang kepada Fu De Zheng Shen (Malaikat Bumi), suatu sebutan yang diberikan oleh Nabi Yi Yin pada jaman Dinasti Shang (1766 – 1122 SM).

Untuk saat ini Zhong Qiu Jie lebih dikenal sebagai perayaan dengan semaraknya kue bulan dengan berbagai bentuk dan citra rasa. Sesungguhnya sembahyang dan perayaan Zhong Qiu Jie memiliki makna yang lebih luas dan sejarah perkembangan yang cukup lama, yang diawali sejak zaman Kaisar Kuning / Huang Di memerintah (2698 – 2598 SM), yang mana dapat kita telusuri dalam kidung rohani Tian Bao (Tuhan Melindungi). Dalam sanjak yang terdapat bait Yue Ci Zheng Shang, Shang adalah salah satu dari empat sembahyang besar kepada Tuhan Yang Maha Esa yang jatuh pada Dinasti Zhou (1122 – 255 SM),  dirayakan pula Festival Panen Gandum (Harvest Festival). Sedangkan kue bulan berkaitan dengan perjuangan Bangsa Han dalam perjuangan melawan Suku Mongolia dalam menggulingkan Dinasti Yuan, yang dipimpin oleh Jendral Guo Zi Sing, yang gugur dalam medan perang. Perjuangan diteruskan oleh Chu Yuan Chang (1328 – 1398). Dalam pertempuran terakhir untuk memberikan perintah rahasia dan menyatukan komando, digunakan sarana kue kering bulat yang menjadi bekal pangan kering bagi orang yang berpergian saat itu, di dalamnya disisipkan petunjuk bagi segenap pejuang di empat penjuru tanah air, semacam selebaran sehingga luput dari perhatian para tentara Dinasti Yuan, yang walaupun telah mengadakan pengawasan ketat dan penggeledahan. Segenap rakyat dan para pejuang yang telah menerima perintah rahasia tersebut bergerak serentak. Akhirnya berhasil menggulingkan Raja Mongolia dan Zhu Yuan Zhang mendirikan Dinasti Ming (1368 – 1643). Guna menyampaikan puji syukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa maka dipersembahkan kue kering bulat yang belakangan lebih dikenal sebagai Zhong Qiu Yue Bing / Kue Bulan, yang dari hari ke hari berkembang dalam bentuk dan citra rasa, terutama disesuaikan dengan keadaan setempat. Disamping itu rakyat bersuka-ria dengan memasang lampion di masing-masing rumah, sehingga juga dikenal dengan istilah Festival Lampion. Pada malam Zhong Qiu Jie banyak orang berlalu-lalang di jalanan untuk menonton keramaian, selain gemerlapnya sinar lampu lampion berhias juga berbagai atraksi kesenian, yang mana adalah saat bagi umat untuk saling berkunjung dan saling bermaaf-maafan antara satu sama lain. Terutama bagi muda-mudi banyak yang berhias diri dan berbondong-bondong menuju tempat keramaian. Secara tidak sengaja banyak diantara mereka yang menemukan jodoh dan menuju jenjang perkawinan yang bahagia. Maka berkembanglah mitos bahwa saat Zhong Qiu adalah saat yang tepat guna menemukan perjodohan, karena saat itu muncul Chang’e, Dewi Bulan yang berwujud gadis belia yang cantik, yang mana menggoda para pemuda untuk mencari pasangan hidup, dan juga merupakan pemunculan dari Yue Xia Lao Ren, Dewa Perjodohan yang datang ke bumi untuk merestui dan mempererat tali perjodohan pasangan muda-mudi. Maka berkembanglah kebudayaan atau kebiasaan Bao Xiu Qiu, yaitu para gadis yang ingin mendapatkan jodohnya dengan mempersiapkan bola bersulam indah dan berdiri di atas loteng. Saat ia memandang ke arah kerumunan pemuda, bila ada yang berkenan di hatinya maka dilemparkanlah bola sulaman tersebut kepada pemuda idamannya, bagi pemuda yang beruntung menerima bola sulaman perjodohan tersebut lalu menghampiri sang gadis. Demikianlah terjadi tali perjodohan oleh Yue Xia Lao Ren, yang merupakan tradisi turun-temurun yang oleh kita yang hidup di jaman sekarang terasa aneh atau tidak masuk akal. Namun ini adalah suatu peristiwa di masa lampau yang telah jadi tradisi, dan saat ini tak jarang pula banyak yang mengikutinya, terbukti mereka hidup bahagia sampai beranak-cucu. Maka saat Zhong Qiu diyakini sebagai saat yang tepat perpaduan unsur Yin dan Yang yang merupakan perpaduan dua unsur positif dan negatif yang merupakan kesatuan dan keharmonisan, yang mana pada saat tersebut, matahari, bumi, dan bulan berada pada kedudukan yang serasi dan harmonis, sehingga diyakini ada sinar pancaran dan aura Qi yang terbaik, dengan demikian doa tulus dari orang tua bagi anaknya dipercaya akan memperoleh berkah dan karunia sehingga memperoleh hasil yang terbaik. Dalam kehidupan sehari-hari, suami istri dapat mempererat rasa cinta kasih yang terjalin, mewujudkan keluarga harmonis, sebagai insan hidup dalam kebajikan mengemban Firman Tuhan.

Jadi pada hakekatnya, Sembahyang Zhong Qiu dan segenap perayaan yang menyertainya adalah merupakan ibadah suci umat manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan ibadah klasik sejak jaman Kaisar Kuning / Huang Di (2698 – 2598 SM), sebagai kaisar peletak dasar kebudayaan Tionghoa, terus berlangsung hingga sekarang yang memiliki pesan-pesan dan makna spiritual yang sakral dan harmonis agar umat manusia dapat hidup tentram damai mengemban Firman Tuhan.

YUE CI ZHENG CHANG


Oleh: Ws. Darmadi Slamet B. Sc.

Ibadah umat Khonghucu kepada Tuhan Yang Maha Esa sepanjang tahun terdapat empat peristiwa penting yang dikenal sebagai Yue Ci Zheng Chang (Sembahyang Empat Musim), yaitu:

1.    Ci                        , Sembahyang Musim Semi

Sembahyang besar saat tahun baru, jatuh pada tanggal 8 malam, saat tengah malam menjelang tanggal 9 bulan I Imlek. Dengan membangun altar khusus bersusun dua di depan pintu gerbang (Lithang, Kelenteng), dengan menyampaikan sembah, sujud mengagungkan Tuhan dan prasetya pada firman-Nya. Yang lazim kita kenal dengan sebutan sembahyang Tuhan Allah (Khing Tee Kong / Jing Di Gong). Saat Jing Di Gong dimulai pada pukul 00.00 (Jam 24.00) adalah saat di dalam ketulusan hati dan pernyataan iman & tekad kita ke hadirat Tian, Tuhan Yang Maha Esa tentang hal yang akan dilaksanakan di dalam tahun yang baru berjalan. Oleh karena itu sembahyang musim semi wajib dipersiapkan dengan bersuci diri dan berpantang sejak hari kedua tahun baru sampai berakhirnya upacara Ci.

2.    Yue                   , Sembahyang Musim Panas

Dilaksanakan pada saat matahari berada di belahan bumi utara, dimana daerah setempat menerima pancaran sinar matahari paling panas dan paling lama, yaitu pada tanggal 5 bulan V Imlek. Sembahyang besar ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa agar umat manusia selalu sadar dan bertaqwa kepada Tuhan. Sembahyang Yue disebut pula Duan Wu Jie yang lebih lazim disebut Sembahyang Bak Cang, karena pada hari tersebut juga untuk memperingati tokoh suci Qu Yuan, patriot suci yang telah mengabdikan diri sepanjang hidup bagi jalan suci dan kebajikan serta rela berkorban demi iman dan satya kepada firman Tian dan cinta kasih kepada sesama manusia.

3.    Chang            , Sembahyang Musim Gugur

Dilaksanakan pada pertengahan musim gugur, yaitu bulan VIII tanggal 15 Imlek. Sembahyang besar ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa atas perwujudan pertalian dan keterikatan manusia – alam – Tuhan sebagai kesatuan dari kehidupan yang harmonis, langgeng, dan lestari. Dengan sesajian utama berbentuk kue bulat, yang dikenal sebagai Tiong Chiu Pia atau Zhong Qiu Yue Bing, sebagai rasa ungkapan syukur atas segala berkah dan karunia Tuhan melalui Malaikat Bumi Fu De Zheng Shen yang berkenan beroleh rejeki dalam kebajikan menegakkan kehidupan rohani dalam kehidupan di atas bumi, maka dikenal pula sebagai hari Fu De Zheng Shen atau Zhong Qiu Jie.

4.    Zheng              , Sembahyang Musim Dingin

Dilaksanakan pada saat Dong Zhi, di musim dingin saat matahari di titik balik selatan atau 23½° LS, tanggal 22 Desember. Sembahyang besar kepada Tuhan Yang Maha Esa berkat rahmat dan karunia-Nya, ungkapan syukur atas segala yang menyertai kehidupan ini, dengan sesajian utama berupa Ronde, hingga dikenal pula dengan sebutan Sembahyang Ronde, dimana suasana diliputi dengan renungan segala sesuatu yang telah dialami atau dikerjakan, dengan demikian dapat diusahakan agar kehidupan di tahun mendatang akan lebih baik.

TIAN BAO


Oleh: Ws. Darmadi Slamet B. Sc.

TIAN    BAO    DING    ER
Tuhan melindungi anda

BI     ER     DAN     HOU
Merahmati anda 

BI     ER     DOU     YI
Agar banyak guna 

JI     JUAN    WEI     QI
Kubersujud 

YUE  CI  ZHENG  CHANG
Sembahyang empat musim 

WEI   TIAN  MING  MING
Hanya firman Tuhan

YI     KONG     ZHI     GU
kebajikan

HE     FU    BU    CHU
banyak berkah

YI     MO     BU     SHU
yang abadi

SHI  YONG  XIAO  XIANG
dengan bakti

YI   GONG   SHENG   SHI
pada Tuhan dan Nabi

WAN  SHOU  WU  JIANG
panjang usia tanpa batas

 

JING HAO PENG – SEMBAHYANG REBUTAN


Oleh: Ws. Darmadi Slamet B.Sc.

Setiap tahun di akhir bulan VII Imlek, umat Khonghucu mengadakan upacara Jing Hao Peng – Sembahyang Rebutan. Secara etimologi, Jing Hao Peng, yang terdiri atas kata Jing berarti menghormati, sedangkan Hao Peng atau lengkapnya Hao Peng You artinya sahabat baik, suatu istilah atau sebutan bagi para arwah. Ritual tersebut lazim disebut King Ho Peng (Lafal Hokkian), atau Sembahyang Rebutan yang menjadi sebutan yang populer karena suatu ketika saat usai memanjatkan doa, para arwah merasuki tubuh umat yang bersembahyang, serentak memperebutkan sesajian yang ada. Jing Hao Peng sangat erat kaitannya dengan upacara sembahyang Zhong Yuan atau Qi Yue Ban. (Bulan VII : 15 Imlek)

Sebagaimana kita ketahui, ritual tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam dibagi atas Shang Yuan, Zhong Yuan, Xia Yuan.

  1. Shang Yuan adalah hari yang menyatakan sifat Maha Kasih, Maha Sempurna Tuhan sebagai Khalik Alam Semesta, dirayakan pada saat malam purnama bulan I Imlek yang lazim disebut Cap Go Meh (Malam tanggal 15) atau Yuan Xiau. Maka saat Yuan Xiau adalah saat suci bagi umat Khonghucu dipenuhi suasana bahagia dan gembira melakukan sujud ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.

  1. Zhong Yuan dirayakan pada saat purnama bulan ke VII (Qi Yue Ban VII : 15). Saat pertengahan tahun berjalan, kasih Tuhan menjelmakan manusia melalui ayah-bunda leluhur. Maka sebagai pernyataan syukur kepada Tuhan, pada saat Zhong Yuan dilaksanakan sembahyang pada leluhur, bukan saja kepada leluhur sendiri, tetapi juga kepada para arwah segenap insan yang telah mendahului, terutama bagi mereka yang tidak memiliki ahli waris, karena sudah selayaknya dikenang dan diberikan penghormatan. Maka pada akhir bulan VII dilakukan sembahyang Jing Hao Peng atau sembahyang besar bagi ketentraman arwah umum.

  1. Xia Yuan dirayakan pada saat purnama bulan ke X Imlek dengan melakukan sembahyang besar ke hadapan Malaikat Bumi Fu De Zheng Shen, Lambang Semesta Alam ciptaan Tuhan yang mana patut dimuliakan serta memperoleh peneguhan iman agar senantiasa menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

Jing Hao Peng atau Sembahyang Rebutan memiliki peran dan arti yang berbeda dengan Sembahyang Qi Yue Ban atau Zhong Yuan Jie (Bulan VII tanggal 15 Imlek) yang mana pada hari tersebut dilakukan upacara pada masing-masing keluarga guna menyampaikan penghormatan dan sesajian terutama bagi leluhur masing-masing, dilakukan di masing-masing rumah atau Kelenteng Keluarga, sedangkan Jing Hao Peng atau Sembahyang Rebutan yang dilakukan pada hari terakhir bulan VII Imlek lebih ditekankan pada arwah umum. Menurut kepercayaan dan tradisi yang berkembang bahwa tiap tahun bulan VII adalah saat terbukanya Pintu Neraka (Gui Men Guan). Para arwah terutama arwah penasaran banyak yang datang ke dunia guna memperoleh bantuan manusia guna meringankan dosa-dosanya sehingga mendapatkan tempat yang layak bagi peristirahatan yang tentram. Oleh karena itu serangkaian ritual sembahyang Jing Hao Peng juga disebut Gui Hun Jie, bertujuan menjauhkan umat manusia dari malapetaka godaan setan, nafsu-nafsu iblis, bukanlah menjalin kerjasama atau kolusi dengan arwah gentayangan guna mencapai sesuatu, terutama diluar kategori akal sehat.

Sabda Suci jilid XI ayat 12
Kwi-Lo bertanya bagaimana cara mengabdi kepada para Rokh. Nabi bersabda, ”Sebelum mengabdi kepada manusia, betapa dapat mengabdi kepada para Rokh?” Murid memberanikan diri bertanya hal setelah orang mati. Nabi bersabda, “Sebelum mengenal hidup, betapa mengenal hal setelah mati?”

Nabi telah mengajarkan kepada kita agar hidup ini berarti dan nyata, bukan suatu yang khayal, atau sia-sia berangan-angan kosong atau mimpi di siang bolong. Hendaknya kita sadari bahwa manusia difirmankan Tuhan Yang Maha Esa hidup dan dihadirkan di dunia ini lewat ayah-bunda dan leluhurnya, manusia mengemban tanggung jawab suci sebagai pengemban firman Tuhan. Tanggung jawab suci itulah menegakkan nilai-nilai luhur kemanusiaannya, gemilangkan kebajikan yang bercahaya itu, menerangi hati sanubari sehingga pikiran jernih dan batin bersih sebagaimana yang terkandung dalam watak sejati manusia, diamalkan dengan tindakan yang nyata berguna bagi bangsa dan tanah air, menjadi insan yang satya dan dapat dipercaya sebagai mahluk ciptaan Tuhan dalam melaksanakan Firman-Nya dengan mengasihi tepasarira kepada sesama manusia, menyayangi sesama mahluk dan bertanggung jawab menjaga dan merawat kelestarian lingkungan hidup.

Selasa, 16 November 2010

KESUSILAAN (LI) MENURUT PANDANGAN AGAMA KHONGHUCU


OLEH : CS. NUSAN CANDRA

Kesusilaan (Li) merupakan kesadaran terhadap keberadaan dan kepentingan orang lain dan perlu dimiliki oleh setiap individu manusia. Maka jika ingin melakukan sesuatu perbuatan apapun terlebih dahulu mempertimbangkan dan memperhatikan kepentingan orang lain.
Apabila setiap individu dalam setiap perbuatan hanya memperhatikan kepentingannya sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain maka akan menggangu ketertiban dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu diperlukan aturan sopan santun dan bagaimana seharusnya segala sesuatu di lakukan. Hal ini untuk mencegah adanya perselisihan dalam kepentingan dari setiap orang.
Dalam ajaran Agama Khonghucu aturan sopan santun itu tersimpulkan istilah Li. Di dalam Li terkandung makna tata krama dan sopan santun. Dengan demikian Li dalam kehidupan masyarakat sangat penting dalam mencapai keselarasan.
Li atau sopan santun sesungguhnya meliputi bidang yang luas namun intisari dari pandangan Agama Khonghucu dapat diketahui dalam ajarannya. Dari perbaikan nama-nama, seorang harus bersikap dan berbuat sesuai dengan nama yang diembannya.
Manusia harus melatih diri untuk bersikap dan bertindak secara tepat sehingga akan mencapai keselarasan dan ketertiban dari masyarakat. Maka Nabi Kong Zi mengajarkan kita bersifat tengah tepat dalam Lun Gi ; XII/II hal 228 ; XII 3 hal 38.
Li juga dapat kita perhatikan dengan konsep  5 hubungan sosial menurut Ajaran Agama Khonghucu yang bersifat Wu Lun. Hubungan sosial yang merupakan unsur penting akan kehidupan sosial yaitu hubungan antara Raja dan Mentri, ayah dan anak, kakak dan adik, suami dan istri dan kawan dengan sahabat. Kelima hubungan sosial ini hendaknya selalu didasarkan pada Jen. Dengan selalu mengindahkan nilai-nilai Li.
Nilai ketiga dari lima hubungan ini merupakan hal penting hubungan keluarga dalam pandangan ajaran Agama Khonghucu. Dalam keluarga penghormatan anak kepada orang tuanya memegang peran kuncinya. Oleh karena itu perbaikan dalam hubungan sosisal di landasi Li amat penting dengan memasukan kebudayaan.
Kelima hubungan sosial merupakan penjabaran dari ajaran tentang Bakti. Baktinya anak terhadap orang tuanya yang sering di gambarkan sebagus solidaritas sosial dan saling ketergantungan antara anak dengan orang tua.
Pada saat seorang lanjut usia maka yang dibutuhkan adalah perhatian dari anaknya. Begitu pula sebaliknya saat kanak-kanak seorang anak sangat memerlukan bimbingan dari orang tuanya.
Akhirnya dalam kesusilaan menurut ajaran Agama Khonghucu merupakan bagian dari Li terdapat penghormatan terhadap Usia. Usia memberi nilai, martabat dan keutamaan kepada semua hal.
Sebagai akhibatnya penghormatan mengarah ke atas terhadap yang telah maju dan berdiri didepan.
Tiga dari lima hubungan sosial menentukan bahwa bagian besar penghormatannya mengalir dari yang muda kepada yang tua.
Maka dari uraian diatas dapat dimengerti bahwa pelaksanaannya Li dalam kehidupan sehari-hari akan dapat mewujudkan adanya ketertiban, keteraturan dan keseimbangan selalu berlandaskan kepada Li.
===000===