Selasa, 11 Januari 2011

GUAN SHENG DI JUN


Oleh: Ws. Darmadi Slamet B. Sc.



Pemujaan GUAN GONG terdapat di Kelenteng-kelenteng sepenjuru dunia. Siapakah GUAN GONG? Dan mengapa dipuja banyak orang? GUAN GONG atau GUAN SHENG DI JUN bernama GUAN YU, alias YUN ZHANG. Beliau dilahirkan pada tahun 162 bulan VI tanggal 24 dan gugur di medan tempur pada tahun 220 bulan II tanggal 13 sebagai salah seorang pahlawan terkenal pada Jaman Dinasti HAN (206 SM – 220 Masehi).

Diawali dengan perkenalan dengan LIU BEI dan ZHANG FEI, maka terkenal sebutan TAO YUAN JIE YI, yaitu kisah angkat saudara. GUAN GONG terkenal bukan karena keperkasaan semata, sebab pada jaman tersebut ternyata masih banyak orang yang lebih hebat, salah satunya adalah LU BU. Pernah suatu ketika GUAN GONG, LIU BEI, dan SHANG FEI, bertiga mengeroyok LU BU, tetapi tidak berhasil mengalahkan LU BU.

Suatu ketika Pasukan LIU BEI dikalahkan oleh CAO CAO, dan GUAN GONG pun terpaksa menyelamatkan diri bersama Istri LIU BEI. CAO CAO pun menjalankan tipu muslihat dengan akal licik ingin menjebak GUAN GONG, yaitu dengan menawarkan sebuah pondok sederhana bagi GUAN GONG dan Istri LIU BEI. Demi keselamatan Istri LIU BEI, GUAN GONG pun bersedia menerima tawaran tersebut. Malam harinya CAO CAO memerintahkan kepala desa setempat agar mengajak penduduk untuk menggerebek, agar mencemarkan nama baik GUAN GONG. Tetapi ketika penduduk datang dan dari jauh mengintip, ternyata GUAN GONG bukan berada di dalam pondok, melainkan duduk di luar sambil membaca buku. Buku tersebut adalah CHUN QIU JING (salah satu Kitab Suci Agama Khonghucu yang ditulis oleh Nabi KONG ZI ). Penduduk desa pun menyadari kelicikan CAO CAO, sebaliknya mereka semakin kagum pada GUAN GONG.

QIAN LI DAN QI (Menunggang kuda ribuan kilometer)
GUAN GONG untuk sementara bersedia membantu CAO CAO. Tetapi begitu mendengar berita bahwa kakaknya, LIU BEI, yang terpisah sewaktu perang, berada di HE BEI, maka Beliau pun mohon pamit kepada CAO CAO dan mengantar Istri LIU BEI ke HE BEI guna berkumpul dengan keluarga. Keberangkatan GUAN GONG dicegah dengan berbagai cara. CAO CAO pun berupaya agar keberangkatan ditunda, tetapi GUAN GONG sudah membulatkan tekad. Ditinggalkannya semua harta benda, emas, sutera, dan lain-lain. Beliau hanya berbekal makanan dan bekal perjalanan secukupnya. GUAN GONG menerobos enam kota dan memenggal lima orang pemimpin pasukan yang tidak membiarkan rombongan GUAN GONG lewat. Akhirnya CAO CAO pun menyerah dan menerbitkan dokuman perjalanan, sehingga GUAN GONG pun lancar sampai di HE BEI dan berhasil bertemu dengan saudaranya, LIU BEI.

HUA RONG DAO
Saat CAO CAO menyerang Negeri WU dengan 800.000 pasukan, maka Negeri WU minta bantuan LIU BEI. Berkat Penasehat Militer LIU BEI yang cerdik yang bernama GONG BING atau ZHU GEE LIANG, CAO CAO berhasil dikalahkan dengan Siasat Angin Timur dan melarikan diri ke HUA RONG DAO. Saat itu GUAN GONG sebenarnya tidak ditugaskan untuk berperang, karena ZHU GEE LIANG tahu bahwa GUAN GONG berbudi luhur dan berhati mulia, mana mungkin tega melawan CAO CAO yang sudah tidak berdaya. Benar juga dugaan GONG BING, ternyata di HUA RONG DAO, CAO CAO bersua dengan GUAN GONG. GUAN GONG pun melepaskan CAO CAO karena mengingat budi CAO CAO yang bersedia menerima dirinya ketika tercerai berai di medan perang, bahkan Istri LIU BEI pun tidak ditawan.
GUAN GONG sampai akhir hayat tetap menunjukkan kesetiaan (ZHONG) dan menjunjung tinggi kebenaran (YI) sampai akhirnya tidak mau menyerah. Ia lebih memilih dipenggal kepalanya oleh Jendral LI MENG untuk diserahkan kepada CAO CAO. Maka CAO CAO hanya memperoleh kepalanya, SUN QUAN dari Negeri WU memperoleh tubuhnya, dan hatinya tetap untuk kakaknya, LIU BEI.

Kaisar SONG WEI ZONG dari Dinasti SONG tahun 1120 Masehi menganugerahkan kepada Kongco GUAN GONG sebagai Raja Muda penuh satya luhur budi menjalankan kebenaran (ZHONG YI HOU).

Kaisar YUAN WEN ZONG dari Dinasti YUAN (Mongol) tahun 1330 Masehi menganugerahkan kepada Kongco GUAN GONG sebagai Raja Besar kebudayaan yang abadi (WEN HEN DI JUN).

Kaisar MING WAN LI dari Dinasti MING tahun 1594 menganugerahkan kepada Kongco GUAN GONG sebagai Raja Agung yang satya luhur budi menjalankan kebenaran (ZHONG YI DA DI). Catatan historis pada era Dinasti MING ini BIO atau Kelenteng banyak didirikan. Diadakan pula pemugaran besar Bio Kongco GUAN SHENG DI JUN.

Kaisar QING JIA GING dari Dinasti QING (Manchu) melengkapi gelar mulia bagi Kongco GUAN GONG dengan GUAN GONG Orang Suci keamanan negara (WU SHENG GUAN GONG).

Tempat pemujaan GUAN GONG disebut ZHONG YI MIAO, dan tulisan ZHONG YI CHUN QIU artinya satya dan kebenaran sepanjang jaman.


Selesai

XUAN TIAN SHANG DI


Oleh: Ws. Darmadi Slamet B. Sc.



Pemujaan XUAN TIAN SHANG DI telah ada sejak Dinasti SHANG (1766 – 1122 SM), dimana Umat Khonghucu saat itu pada musim panas atau XIA JI, di malam hari langit yang cerah, menyaksikan sinar terang Bintang Utara, yang mana merupakan misteri kekuasaan Tuhan. XUAN TIAN SHANG DI secara etimologi dapat diartikan sebagai Malaikat penilik kehidupan manusia dari alam gaib yang penuh misteri dan kegelapan, sesuai dengan arti kata XUAN yang berarti misteri.

XUAN TIAN SHANG DI disebut pula Malaikat Bintang Utara, yaitu Malaikat yang mewartakan kelahiran Nabi KONG ZI dengan menyampaikan wahyu kepada Ibunda YEN ZHENG ZAI, “Terimalah Karunia TIAN, engkau akan melahirkan seorang putera yang nabi, dan engkau harus melahirkan di KONG SANG” (nama sebuah gua yang kering di bukit selatan (NAN SHAN).

XUAN TIAN SHANG DI diwujudkan sebagai sesosok jendral/panglima yang membawa pedang di tangan kanan, dan bendera hitam (tanda pemberi perintah) di tangan kiri, duduk di kursi dengan sepasang kaki yang menginjak kura-kura dan ular. Kura-kura melambangkan perut yang senantiasa menginginkan isi yang banyak, yang artinya keserakahan/tamak akan harta benda. Sedangkan ular melambangkan keinginan/hasrat yang terlampau banyak. Kura-kura dan ular diinjak, artinya keserakahan/tamak maupun keinginan/hasrat dapat dikendalikan. Dengan demikian, segenap umat yang menyaksikan JIN SHEN/Patung Perwujudan XIAN TIAN SHANG DI, dapatkah kiranya menghayati makna yang terkandung di dalamnya.

Banyak cerita rakyat yang mengkisahkan perihal kehidupan XIAN TIAN SHANG DI. Bahkan ada yang mengkisahkan bahwa Kaisar Pendiri Dinasti MING (1368 – 1644 SM) yang bernama ZHU YUAN ZHANG (1368 – 1399 SM) yang bergelar MING TAI ZHU adalah titisan XIAN TIAN SHANG DI. Hal ini karena saat perjuangan melawan Tentara Mongol dari Dinasti YUAN (1279 – 1368 SM), Beliau mengalami kekalahan dan melarikan diri ke WU DANG SHAN (Gunung BU TONG), dimana disana terdapat Tempat Pemujaan XUAN TIAN SHANG DI. Berkat petunjuk yang diterima, akhirnya Beliau dapat memenangkan peperangan. Guna menyampaikan puji syukur, maka tempat pemujaan tersebut dipugar dan terdapat Patung Kaisar Dinasti MING yang disebut ZHEN WU DA DI, yang merupakan titisan XUAN TIAN SHANG DI.

Hari peringatan bagi XUAN TIAN SHANG DI, yaitu Bulan III tanggal 3 Imlek menyambut turunnya XUAN TIAN SHANG DI dan Bulan IX tanggal 9 Imlek Kenaikan XUAN TIAN SHANG DI. Di latar belakang JIN SHEN/Patung XUAN TIAN SHANG DI terdapat pula tulisan HE DI yang memiliki pengertian sama dengan XUAN, yang berarti hitam atau misteri, sebagai khalik alam semesta yang sifatnya penguasa teratas. Kata BEI XING adalah Bintang Utara sebagai Pembawa Pesan  Illahi, Bintang Utara yang terang sebagai kiblat peta langit. Juga terdapat lambang TAI JI, YIN YANG, dan BA GUA, sebagai lambang alam semesta yang penuh misteri.



Selesai

Xi Men Bao Menyaksikan Malaikat Sungai Menikah


西
门
豹
觀
河
伯
娶
妇
XI
MEN
BAO
GUAN
HE
BO
QU
FU
Oleh: Ws. Darmadi Slamet B. Sc.


Umat Khonghucu selain menyampaikan hormat dan sesajian dalam upacara sembahyang kepada Tuhan, Nabi, dan leluhur, juga kepada SHEN MING 神明 (Malaikat), yang mana sesuai dengan kebiasaan/tradisi setempat, sejak jaman dahulu hingga sekarang. Hal tersebut dapat dilihat pada Kitab Sabda Suci. Nabi membicarakan tentang TIONG KIONG, “Anak lembu belang bila berwarna merah mulus dan bertanduk lurus, biar orang tidak mau menggunakannya untuk korban sembahyang (karena keturunan sapi pembajak sawah), kiranya malaikat gunung dan malaikat sungai tidak akan menyia-nyiakannya” (Sabda Suci Jilid VI ayat 6).

WEI WEN HOU 魏文侯 (403 – 396 SM) adalah Pembesar Negeri JIN 晋 yang memisahkan diri dan mendirikan Negeri WEI 魏, yang mana memperoleh pengakuan atau pengesahan dari Raja Dinasti ZHOU 周, yaitu ZHOU WEI LIE WANG  周威烈王 (425 – 402 SM). WEI WEN HOU adalah seorang Raja Muda yang bijaksana, yang mana Beliau adalah murid dari Perguruan ZI XIA 子夏 (Murid Nabi KONG ZI 孔子). Pada tahun 401 SM, ia mengutus Jendral XI MEN BAO 西门豹 untuk menjaga Kota YE DU 邺都, tapal batas Negeri WEI.

Ketika XI MEN BAO sampai di Kota YE DU, nampak suasana kota yang sepi dari kehidupan, jalan-jalan sunyi dan penduduk sedikit. Maka ia pun menemui para tetua dan memperoleh jawaban bahwa dalam waktu dekat akan ada Upacara Pernikahan Malaikat Sungai. Penduduk banyak yang terpaksa mengungsi. ZHANG SHUI 漳水 yang mengalir melalui Kota YE DU, dijaga oleh Malaikat Sungai yang setiap tahun menikahi seorang gadis. Kalau upacara pernikahan dan sesajian telah disampaikan, maka untuk tahun berjalan akan memperoleh curah hujan cukup dan panen berlimpah. Sebaliknya bila tanpa persembahan yang memadai, maka Malaikat Sungai jadi murka dan timbul bencana, banjir bandang yang akan menenggelamkan sawah, ladang, dan rumah penduduk, bahkan merenggut korban jiwa.

XI MEN BAO bertanya, “Siapakah yang memulai ide dan pelaksanaan upacara demikian?” Dijawab bahwa ini adalah perintah Sang Dukun. Penduduk takut bencana dan kutukan, maka tidak ada yang berani menolak. Semua menurutinya, termasuk pejabat setempat. Setiap tahun penduduk mengumpulkan perak puluhan ribu tail. Penggunaan biaya upacara 20 – 30%, sisanya dibagi-bagi antara pejabat, dukun, dan para pengikutnya, bahkan bupati yang turun tangan langsung. Setiap tahun seusai masa tanam, maka dukun, bupati, dan para pengikutnya keliling wilayah mengumpulkan dana dan mencari anak gadis yang cantik belia untuk dijadikan “pengantin” bagi Malaikat Sungai. Bila yang terpilih kebetulan memiliki uang, ia boleh menolak, yaitu dengan uang dapat menebus kembali anak gadisnya. Sedangkan bagi keluarga miskin dan tidak mampu, terpaksa harus merelakan anak gadisnya untuk dikorbankan. Ranjang pengantin yang berisikan gadis pengantin diletakkan di atas rakit yang dihias serta dilengkapi berbagai sesajian, kemudian dilarungkan ke sungai, mengikuti aliran sungai sampai tenggelam. Banyak keluarga yang merasa berat dengan pungutan biaya upacara. Apalagi yang memiliki gadis belia, terpaksa mengungsi, sehingga wilayah tersebut sekarang sepi penduduk.

XI MEN BAO bertanya lebih lanjut, “Apakah wilayah ini acapkali diterjang banjir?” Tetua menjawab, “Penduduk percaya bahwa persembahan korban upacara sembahyang telah dilakukan, maka terhindar dari kutukan Malaikat Sungai. Sesungguhnya sebagian besar wilayah berada di ketinggian, jadi kemungkinan kecil diterjang banjir. Justru yang terjadi adalah kekeringan di musim panas dan musim gugur”. XI MEN BAO pun mengucapkan terima kasih dan pamit kepada Para Tetua serta berpesan agar diberitahu saat Malaikat Sungai menikah, sehingga berkenan menyaksikan.

Tiba saatnya. Tetua menyampaikan laporan. Maka XI MEN BAO selaku Gubernur YE DU turut hadir dalam upacara sembahyang. Dari kejauhan nampak dukun, yang ternyata adalah seorang nenek tua, diiringi oleh dua puluhan gadis belia serta pembawa sesajian, dan juga gadis pengantin yang digotong di atas tandu dengan wajah sedih dan dibentak oleh para pengawal, dukun, dan pejabat yang ikut dalam rombongan.

XI MEN BAO pun mendekati gadis pengantin dan berkata kepada para hadirin yang mencapai ribuan orang, karena penduduk yang mengungsi banyak yang pulang ikut menyaksikan ramainya Upacara Pernikahan Malaikat Sungai. “Hai Dukun Nenek Tua! Untuk Calon Pengantin Malaikat Sungai tentunya harus yang cantik. Gadis ini walaupun telah dihias dan mengenakan gaun pengantin bersulam, tetap saja buruk rupa. Sebaiknya Anda pergi melapor ke Malaikat Sungai bahwa pengantin akan diantar kelak kemudian hari’. Lalu diperintahkan kepada prajurit pengawalnya untuk menangkap Dukun Nenek Tua dan dilemparkan ke dalam sungai. Segenap hadirin tampak keheranan dan suasana ramai hiruk pikuk seketika berubah menjadi sunyi senyap. Tak lama kemudian XI MEN BAO pun berkata, “Dasar Nenek Tua tidak gesit, tidak bisa bekerja”. Ditangkap lagi seorang gadis pengikut dukun agar pergi menyusul dan dilemparkan ke sungai. Tak lama kemudian satu orang lagi, sampai tiga gadis pengikut dukun telah dilemparkan ke sungai. XI MEN BAO pun berkata, “Dasar anak perempuan, tidak bisa bekerja, tidak dapat menyampaikan pesan dengan baik. Sebaiknya kalian tiga petugas pengumpul dana yang pergi”. Maka pengawal pun menangkap ketiganya dan dilemparkan ke sungai. Sejenak kemudian XI MEN BAO berkata lagi, “Hai Kalian Pejabat Setempat, ternyata anak buah Kalian tidak becus. Sebaiknya Kalian yang pergi menghadap Malaikat Sungai!” Para Pejabat jadi pucat pasi dan gemetaran. Kalau pada masa-masa yang silam, mereka jadi bangga dan angkuh karena memperoleh pemasukan yang lumayan dan juga tempat VIP dalam Upacara Pernikahan Malaikat Sungai. Kini jiwanya terancam. Mereka pun serentak berlutut dan membenturkan dahinya ke tanah sampai berdarah-darah guna mohon ampun.

XI MEN BAO pun berkata, “Sejak saat ini, barang siapa berani menyelenggarakan Upacara Pernikahan Malaikat Sungai, yang merupakan ajaran sesat dengan mengorbankan jiwa manusia, akan dihukum sebagai utusan menemui Malaikat Sungai”. Maka penduduk pun menjadi senang, berbondong-bondong kembali tinggal menetap di YE DU. XI MEN BAO pun menyelenggarakan upacara sembahyang yang benar, sesuai dengan tata agama dan tata ibadah, serta menggerakkan penduduk guna membangun saluran air sebanyak 12 buah. Selain mencegah banjir, juga berfungsi sebagai irigasi, sehingga mendatangkan hasil panen yang berlimpah dan kemakmuran di daerah YE DU.

Selesai

HARI – HARI SUCI AGAMA KHONGHUCU


1
bulan
I
CHUN JIE
Tahun Baru IMLEK
8/9
bulan
I
JING TIAN GONG
Sembahyang Tuhan - Allah
15
bulan
I
YUAN XIAO JIE
Sembahyang CAP GO ME
18
bulan
II
ZHI SHENG JI CHEN
Hari Wafat Nabi KONG ZI
      5 April

QING MING JIE
Sembahyang Sadranan
5
bulan
V
DUAN YANG JIE
Sembahyang BAK CANG & PEK CUN
15
bulan
VII
ZHONG YUAN JIE
Sembahyang Arwah Leluhur
29
bulan
VII
JING HE PING
Sembahyang Arwah Umum
15
bulan
VIII
ZHONG QIU JIE
Sembahyang TIONG CHIU
27
bulan
VIII
ZHI SHENG DAN
Hari Lahir Nabi KONG ZI
15
bulan
X
XIA YUAN JIE
Sembahyang Malaikat Bumi
(FU DE ZHENG SHEN)
       22 Desember
DONG ZHI JIE
Sembahyang Ronde
24
bulan
XII
ER SI SHENG AN
Hari Persaudaraan
(ZAO JUN / Malaikat Dapur Naik)
29/30
bulan
XII
CHU XI
Sembahyang Tutup Tahun

Arwah Pembalas Budi


Oleh: Ws. Darmadi Slamet B. Sc.

Wei Chou 魏犨 adalah salah satu pengikut setia yang menyertai Zhong Er 重耳, Pangeran Negeri Jin 晋, Jin Guo 晋國, dalam pengungsian selama 19 tahun lamanya. Saat Zhong Er berhasil kembali ke Negeri Jin dan naik tahta dengan gelar Jin Wen Gong 晋文公 (636 – 628 SM), kepada para pengikut setia dihadiahi gelar dan kedudukan, termasuk pula Wei Chou diangkat sebagai jendral sekaligus pembesar.
Saat Qin Huan Gong 秦桓公 memerintah tahun ke-11 (594 SM), ia mengutus Jendral Du Hui 杜回 memimpin pasukan menyerang wilayah Negeri Jin. Penjaga tapal batas Negeri Jin tidak berdaya menghadapi keperkasaan Jendral Du Hui, terutama pasukan inti 300 orang yang bersenjatakan kapak gagang panjang, yang mampu menebas setiap prajurit yang maju ke medan tempur, baik pasukan berkuda maupun kereta perang, sehingga terpaksa mundur ke benteng pertahanan.
Jin Jing Gong 晋景公 (599 – 581 SM) pun mengutus Jendral 魏颗 Wei Ke, putra dari Wei Chou, sebagai jendral memimpin pasukan menghadapi Jendral Du Hui. Saat pasukan kedua pihak saling berhadapan dan masing-masing pasukan telah menyusun formasi, Jendral Wei Ke dikejutkan oleh gaya tempur Jendral Du Hui yang tidak menggunakan kereta maupun penungggang kuda, melainkan melangkah sambil mengayunkan kampak gagang panjang, diikuti 300 orang serdadu pilihan yang juga bersenjatakan kampak gagang panjang, yang mana ternyata sangat ampuh membabat kaki kuda dan menghancurkan kereta perang, sehingga Jendral Wei Ke pun kalah, dan terpaksa menarik mundur pasukan ke benteng pertahanan.
Tiga hari kemudian, pasukan tambahan yang diutus oleh Jin Jing Gong telah tiba, dipimpin oleh Wei Ji 魏锜 yang tak lain adalah adik kandung Wei Ke sendiri. Dikatakan bahwa keperkasaan Jendral Du Hui tidak dapat dilawan secara frontal. Wei Ji tidak percaya dan ingin membuktikan sendiri. Maka ia pun memimpin pasukan keluar benteng untuk menggempur Pasukan Du Hui yang mengurung benteng. Ternyata pasukan musuh kocar-kacir lari memencar dan dikejar oleh Tentara Jin yang dipimpin oleh Wei Ji. Ternyata ini hanya siasat atau taktik menjebak musuh. Begitu tahu bahwa Pasukan Jin telah masuk perangkap, maka muncullah pasukan inti sebagai pembabat bersenjatakan kampak gagang panjang yang ternyata sangat ampuh menghancurkan Pasukan Jin. Masih untung Wei Jin berhasil diselamatkan oleh pasukan penolong yang dipimpin oleh kakaknya, Wei Ke.
Malam harinya Jendral Wei Ke duduk merenung, memikirkan strategi yang tepat untuk menghadapi musuh, ternyata amat sulit untuk mencari jalan keluar menghadapi masalah yang rumit ini. Tak lama kemudian ia pun tertidur karena kelelahan. Antara sadar dan tidak, sayup-sayup terdengar ada yang membisikkan kata-kata Qing Cao Po 青草坡 (Lereng rumput hijau). Jendral Wei Ke pun terbangun tanpa tahu arti maknanya. Saat tertidur terdengar pula bisikan Qing Cao Po. Dengan perasaan heran ia bertanya kepada penasehat militer. Ya mungkin inilah jawaban strategi yang jitu, karena berjarak beberapa kilometer ada lereng yang disebut Qing Cao Po. Dikatakan demikian karena disana banyak tumbuh rumput diantara bebatuan.
Maka disusunlah strategi dengan menempatkan pasukan yang dipimpin oleh Jendral Wei Ji untuk menyergap musuh. Sedangkan Jendral Wei Ke memimpin pasukan sebagai umpan mengitari Pasukan Qin dan pura-pura kalah melarikan diri ke arah Qing Cao Po dan dikejar oleh Jendral Du Hui beserta pasukan intinya. Ternyata begitu mendekati Qing Cao Po, Pasukan Qin telah dihadang oleh Pasukan Jin. Jendral Du Hui dengan perkasa mengayunkan kampak besar seberat 120 kaki, tetapi keanehan terjadi, ayunan dahsyat ternyata meleset. Demikian pula 300 pasukan inti dengan senjata kampak gagang panjang, semua jadi sempoyongan, jatuh bangun, terpeleset, karena dasar pijakan bagaikan sangat licin dan penuh bebatuan. Sebaliknya Pasukan Berkuda Jin merajalela menyerang musuh. Jendral Wei Ke yang mengamati dari jauh nampak tercengang. Karena diantara 2 pasukan yang bertempur, terdapat seorang tua yang menarik rumput-rumput tersebut. Anehnya ia tidak terluka sedikitpun oleh ayunan kapak Pasukan Inti Qin. Maka tak lama kemudian, Pasukan Qin dapat dimusnahkan, yang tersisa hanya puluhan orang yang melarikan diri. Maka Jendral Wei Ke pun memperoleh kemenangan dalam pertempuran yang sungguh tidak dapat dimengerti. Ia pun membangun altar, melakukan doa sembayang puji syukur atas rahmat Tuhan, serta ucapan terima kasih kepada arwah yang membantunya.
Malam hari ketika ia tertidur, Jendral Wei Ke memperoleh penglihatan, dimana ia didatangi oleh seorang kakek yang datang memberi hormat dan mengucapkan selamat. Jendral Wei Ke pun berkata, “Saya tidak kenal anda. Ternyata andalah yang berjasa membantu saya. Bagaiman cara saya membalas budi baik anda?” Orang tua itu pun tersenyum menjawab, “Kedatangan saya ke dunia adalah membalas budi baik anda. Saya adalah orang tua dari Zu Ji 祖姬. Anda telah menjalankan pesan orang tua anda dengan benar. Menikahkan kembali putri saya. Putri saya dalam setiap doanya menyebut nama dan kebaikan anda setiap tahun saat Zhong Yuan Jie (bulan VII tanggal 15 Imlek). Putri saya selalu meyampaikan sesajian dan sembahyang kepada leluhur. Semua ini berkat budi luhur dan tindakan bijaksana yang telah anda lakukan”. Arwah dan manusia pada hakekatnya adalah berbeda alam, jadi tidaklah mudah bertemu. Hanya saja terdorong rasa ingin balas budi, kebetulan berkesempatan datang ke dunia, dan mengetahui Jendral Wei Ke dalam kesulitan dan keselamatannya terancam, jadi berkesempatan membantu guna membalas budi.
Jendral Wei Ke pun terbangun dari tidur dan kaget. Teringatlah kejadian belasan tahun yang lampau. Saat itu ayahnya, Jendral Wei Chou, memiliki seorang selir yang cantik dan belia. Setiap kali Jendral Wei Chou berangkat menuju medan perang selalu berpesan kepada anaknya, Wei Ke, “Kalau saya gugur di medan tempur, tolong lakukan tugas dari saya, yaitu segera carikan suami yang baik dan nikahkan Selir Zu Ji. Ia masih muda, jangan sampai menjanda dan hidup menderita. Jadi saya pun dapat tenang di alam baka”. Akan tetapi sebelum meninggal karena sakit, Jendral Wei Chou saat menjelang ajal berkata lain, “Zu Ji sangat cantik dan amat kusayangi. Kalau saya meninggal, harap dijadikan tumbal, makamkan bersama saya, agar ada yang menemani saya di alam baka”.
Saat orang tuanya meninggal, Wei Ke melakukan upacara pemakaman sesuai tata ibadah agama tanpa menyertakan Zu Ji sebagai korban hidup-hidup. Dalam pemakaman, adiknya, Wei Ji, bertanya, “Mengapa tidak melaksanakan pesan mendiang ayahanda?” Wei Ke menjawab, “Seorang anak yang berbakti wajib melaksanakan pesan mendiang ayahnya. Pesan ayah adalah menikahkan Zu Ji. Pesan tersebut diucapkan ayah kita berulang kali bila berangkat menuju medan perang. Sedangkan saat menjelang meninggal, pikiran kalut dan tanpa kesadaran menyampaikan pesan yang kacau. Tentu kita wajib menjalankan pesan amanat yang benar”. Maka Jendral Wei Ke pun memilih seorang pejabat untuk menikahi selir ayahnya, sehingga dapat hidup bahagia.
Atas perbuatan berbudi luhur tersebut, arwah orang tua Zu Ji berkenan membalas budi, dan Raja Muda Jin Jing Gong pun menghargai jasa Jendral Wei Ke dengan memberikan tanah di Daerah Ling Hu 令狐 dan dibuatkan genta guna mengenang jasa Jenderal Wei Ke. Oleh penduduk sekitar Ling Hu, genta tersebut diberi nama Jing Zhong 景钟, yang artinya Genta Jing.

Selesai

Zi Lu Merapikan Topi Gugur di Negeri Wei


子
路
结
缨
死
在
卫
zi
lu
jie
ying
si
zai
wei
Oleh: Ws. Darmadi Slamet B. Sc.

Zi Lu 子路, alias Zhong You 仲由, disebut pula Ji Lu 季路, adalah penduduk Daerah Bian 卞, Negeri Lu 鲁. Lahir tahun 542 Sebelum Masehi, meninggal tahun 480 Sebelum Masehi dalam usia 62 tahun. Saat awal perjumpaan dengan Nabi Kong Zi 孔子, Nabi bertanya apa yang menjadi kesukaannya, dan Zi Lu pun menjawab sambil menunjukkan pedangnya, “Pedang panjangku ini”. Nabi bersabda, “Bila kemampuanmu yang kini itu ditambah dengan ketekunan dalam belajar, maka engkau akan menjadi orang yang hebat”. “Apa gunanya belajar untukku?”, tanya Zi Lu. “Di Gunung Selatan ada rumpun bambu yang dari sifatnya sendiri sudah lurus tanpa ada bengkokan. Bila bambu itu dipotong, digunakan sebagai anak panah, dapat menembus kulit badak. Apa gunanya belajar?”, Nabi bersabda, “Benar. Tetapi bila engkau memberinya bulu-bulu dipangkal, dan ujungnya dari baja, tidakkah akan menusuk lebih dalam?” Zi Lu pun membongkokkan diri dua kali dan berkata, “Murid akan sungguh-sungguh menerima ajaran Guru”. Maka Zi Lu yang berusia 9 tahun lebih muda dari Nabi Kong Zi pun belajar dibawah bimbingan Nabi Kong Zi.

Zi Lu bertanya cara menjadi seseorang yang sempurna. Nabi bersabda:

Harus punya kepintaran seperti Zang Wu Zhong 臧武仲
Tidaklah tamak seperti Meng Gong Chuo 孟公绰
Pemberani seperti Bian Zhuang Zi 卞庄子
Banyak keterampilan seperti Ran Qiu 冉求
Dan binalah jiwa keseniannya, maka akan sempurnalah orang itu.
(Lun Yu XIV : ayat 12)

Selanjutnya Kong Zi menekankan pentingnya belajar Enam Perkara dengan Enam Cacatnya. Nabi bersabda, “You 由, pernahkah engkau mendengar tentang enam perkara dengan enam cacatnya?” Zhong You menjawab, “Belum”. “Duduklah! Kuberitahu kamu.

Orang yang suka Cinta Kasih tetapi tidak suka belajar, ia akan menanggung cacat bodoh.
Yang suka Kebijaksanaan tetapi tidak suka belajar, ia akan menanggung cacat kalut jalan pikiran.
Yang suka sifat Dapat dipercaya tetapi tidak suka belajar, ia akan menanggung cacat menyusahkan diri sendiri.
Yang suka Kejujuran tetapi tidak suka belajar, ia akan menanggung cacat menyakiti hati orang lain.
Yang suka Berani tetapi tidak suka belajar, ia akan menanggung cacat mengacau.
Dan yang suka sifat Keras tetapi tidak suka belajar, ia akan menanggung cacat ganas”.
(Lun Yu XVII : ayat 8)

Bagaimanapun takdir Zi Lu yang mati tidak wajar telah diprediksi oleh Nabi Kong Zi. Min Zi Qian 閺子骞 berdiri disamping Nabi Kong Zi, nampak sangat ramah dan seksama, Zi Lu sangat gagah, Ran You 冉有 dan Zi Gong 子贡 Nampak bebas dan jujur. Melihat ini Nabi sangat gembira tetapi bersabda, “Kiranya Zhong You kelak tidak mendapatkan kematian yang wajar” (Lun Yu XI : ayat 13).

Raja Muda Negeri Wei 卫 bernama Wei Ling Gong 卫灵公, berpermaisuri Nan Zi 南子, Putri Negeri Song 宋, memiliki paras cantik dan berputera Kuai Kui 蒯聩, yang setelah dewasa diangkat sebagai Putera Mahkota. Di usia lanjut, tingkah laku Wei Ling Gong dan Permaisuri Nan Zi menjadi sangat tidak terpuji. Saat itu terdapat pelayan istana yang bernama Mi Zi Xia 弥子瑕, yang begitu disayangi oleh Wei Ling Gong. Pernah suatu ketika di depan umum Mi Zi Xia memakan buah Tao 桃 (Buah Persik). Setelah sisa setengah dimasukkan ke mulut Wei Ling Gong. Ini jelas-jelas merupakan penghinaan kepada Raja Muda yang patut dihukum mati. Atas kelancangan tersebut, Wei Ling Gong tidak marah, malah memakan sisa buah persik tersebut sambil berujar, “Mi Zi Xia sungguh sangat mencintai saya. Buah Persik yang begitu enak tidak dimakan sendiri, melainkan berbagi rasa dengan saya”. Semua orang yang menyaksikan menjadi kaget dan tertawa. Tetapi Wei Ling Gong sama sekali tidak merasa malu. Mi Zi Xia pelayan istana yang amat dimanjakan oleh Wei Ling Gong semakin merajalela, bahkan perselingkuhan dengan Permaisuri Nan Zi telah menjadi rahasia umum.

Saat Wei Ling Gong memerintah 39 tahun (tahun 496 Sebelum Masehi), Putera Mahkota Kuai Kui ingin menghapus aib keluarganya. Maka diutus orang untuk membunuh Mi Zi Xia dan ibu kandungnya, Nan Zi, tetapi rencana tersebut gagal. Oleh Nan Zi hal tersebut dilaporkan kepada Wei Ling Gong, maka Kuai Kui pun melarikan diri ke Negeri Song, selanjutnya ke Negeri Jin 晋. Wei Ling Gong lalu mengangkat adik Kuai Kui yang bernama Ji Ying 姬郢 sebagai Putera Mahkota, yang belum sempat bertahta telah meninggal dunia. Maka Ji Zhe 姬辄, cucunya (anak Kuai Kui), naik tahta pada tahun 492 Sebelum Masehi (akhir masa pemerintahan Wei Ling Gong tahun ke-43) dengan bergelar Wei Chu Gong 卫出公. Kuai Kui pun berusaha merebut tahta dengan bantuan Negeri Jin, sedangkan Ji Zhe dibantu oleh Negeri Qi, sejauh mana usaha tersebut tidak berhasil.

Pada tahun ke-12 Pemerintahan Wei Chu Gong (tahun 481 Sebelum Masehi), Menantu Raja Wei Ling Gong yang bernama Kong Yu 孔圉, yang menjabat Perdana Menteri Negeri Wei, meninggal dunia. Maka jabatan Perdana Menteri dipegang oleh anaknya yang bernama Kong Kui 孔悝. Ibu Kong Kui adalah Putri Raja Muda Wei Ling Gong, sekaligus kakak perempuan Kuai Kui. Ia mengutus pegawai yang bernama Hun Liang Fu 浑良夫 menemui Kuai Kui di pengasingan. Maka dengan menyamar, Kuai Kui beserta 2 orang Jendral, Shi Qi 石乞 dan Meng Yan 孟魇, beserta pasukan, menyusup ke rumah Kong Kui. Ketika Kong Kui pulang dari istana, maka ia pun ditawan oleh Kuai Kui, dengan dibantu oleh kakaknya (Ibunya Kong Kui), memaksa Kong Kui agar mengangkat Kuai Kui sebagai Raja Muda Negeri Wei. Di bawah ancaman, Kong Kui terpaksa menyetujuinya dan mengumpulkan semua pejabat istana untuk mengumumkan pengangkatan Kuai Kui. Zi Gao 子高 dan beberapa pejabat pun meninggalkan istana disertai oleh Wei Chu Gong alias Ji Zhe (Putra Sulung Kuai Kui). Di tengah jalan mereka berjumpa dengan Zi Lu yang baru kembali dari luar kota. Pembesar Gao Chai 高祡 alias Zi Gao berkata, “Pintu kota telah ditutup, terjadi makar. Kekuasaan tidak di tangan kita lagi. Sudah bukan urusan kita lagi”.

Zi Lu adalah Kepala Keamanan Keluarga Kong Kui. Ia tidak terima keadaan tersebut, maka ia pun mencoba masuk kota. Penjaga kota berkata, “Raja Muda Ji Zhe telah keluar kota. Untuk apa engkau masuk kota?” Zi Lu menjawab, “Saya paling benci kepada orang yang turut menikmati kejayaan dan meninggalkan orang selagi ada kesusahan”. Pada saat itu kebetulan pintu kota dibuka karena ada orang keluar, maka Zi Lu pun menerobos masuk, langsung menuju ke istana. Di bawah Panggung Kehormatan ia berteriak, “Harap segera bebaskan Tuanku Kong Kui. Kalau tidak, akan kubakar Panggung Kehormatan ini!” Zi Lu pun bersiap-siap mengambil obor akan membakar Panggung Kehormatan. Akan tetapi Zi Lu dikeroyok oleh pasukan yang dipimpin oleh Jendral Shi Qi dan Meng Yan. Zi Lu yang telah berusia lanjut (62 tahun) tentu bukan tandingan kedua Jendral yang main keroyok dengan tombak panjang, bahkan topi terlepas karena ikatan dipenggal putus. Sebelum meninggal, Zi Lu masih sempat membenarkan topi yang dipakai sambil berkata, “Seorang Susilawan meninggal, jangan sampai tidak mengenakan topi”.

Saat itu Nabi Kong Zi sedang di rumah dan bertanya kepada para murid, “Apakah Gao Chai telah kembali? Apakah Zi Lu telah meninggal?” Para murid jadi heran, “Mengapa Guru bertanya demikian?” Nabi bersabda, “Gao Chai amat bijaksana, dapat menjaga diri. Zi Lu orangnya sangat kasar dan berani, kurang menghargai hidupnya. Pasti akan menemui ajalnya”. Benar juga. Tak lama kemudian Gao Chai telah kembali dengan selamat, Sungguh sulit dijelaskan bagaimana suasana pertemuan Guru dan murid, entah suka atau duka. Tak lama kemudian, utusan dari Raja Muda Wei tiba menghadap Nabi Kong Zi sambil berujar, “Raja kami baru naik tahta, Raja sangat menghormati Guru. Oleh karena itu Raja berkenan mempersembahkan hidangan khusus”. Nabi Kong Zi menghaturkan terima kasih dan melakukan Bai 掰, menerima hidangan tersebut, sesuai dengan tata susila. Tanpa dilihat pun Nabi sudah tahu apa isinya. Nabi Kong Zi bersabda, “Apakah hidangan ini adalah daging murid saya Zhong You?” Utusan itu menjadi kaget dan menjawab, “Benar. Bagaimana Guru dapat tahu?” Nabi pun bersabda, “Kalau bukan daging muridku, Tuanmu tidak akan berbuat demikian. Tuanmu telah ingkar dari Jalan Suci, memperlakukan manusia diluar batas perikemanusiaan. Tuhan mengutuknya tidak akan lama berkuasa”. Lalu diperintahkan murid-muridnya untuk mengubur daging Zhong You. Kejadian tersebut terjadi pada tahun 480 Sebelum Masehi.

Benar juga prediksi Nabi Kong Zi. Kuai Kui yang naik tahta dengan gelar Wei Zhuang Gong 卫庄公 hanya bertahan 2 tahun yaitu 480 – 478 Sebelum Masehi. Atas sikap yang tidak kenal membalas budi kepada Negeri Jin, maka mengakibatkan kemurkaan Raja Muda Jin, maka Negeri Wei pun diserang. Rakyat Negeri Wei dan Pembesar melengserkan Wei Zhuang Gong yang melarikan diri ke Negeri Rong 戎, sampai akhirnya terbunuh di Negeri Rong.



Selesai

UPACARA RITUAL YANG BERKAITAN DENGAN TAHUN BARU IMLEK


Oleh: Ws. Darmadi Slamet B. Sc.

Sembahyang besar ke hadirat Tuhan yang Maha Esa guna menyambut pergantian tahun/perayaan ritual tahun baru Imlek ialah sembahyang besar menyatakan syukur atas karunia Tuhan sepanjang tahun yang akan ditinggalkan serta penuh semangat dan pengharapan menyambut tahun baru yang akan datang. Maka suasana diliputi renungan segala sesuatu yang telah terjadi agar senantiasa mawas diri dan mengamalkan kebajikan sebagaimana Tuhan firmankan melalui beberapa tahapan, yaitu:

1.      Tanggal 24, upacara mengantar ZAO SHEN (COO CUN) SIANG THIAN (malaikat dapur naik ke surga) dilakukan pada saat ZI SHI, yaitu antara jam 23.00 – 01.00. COO CUN adalah malaikat dapur yang berkedudukan di dapur setiap keluarga. Meskipun tempatnya di dapur, beliau sebagai malaikat utusan Tuhan yang menilik dan mengawasi tingkah laku segenap anggota keluarga. Tentang apa yang dimasak, disajikan, maupun dimakan, apakah sudah sesuai dengan kebajikan dan melaporkan kepada Tuhan sehingga beroleh karunia dan berkah atau hukuman dan percobaan bagi keluarga.

2.      CU SHI, merupakan hari terakhir dari tahun yang akan ditinggalkan. Segenap anggota keluarga berhimpun bersama mulai siang hari. Sembahyang besar kepada leluhur, membersihkan altar kemudian makan malam bersama.

3.      Tahun Baru Imlek/SIN CIA/CHUN JIE, menyampaikan ucapan selamat tahun baru dan penghormatan kepada orang tua, sanak keluarga, baik usia lebih lanjut, maupun tingkatan lebih tinggi dalam hubungan keluarga dan sanak keluarga yang lebih tua. Generasi tua biasanya memberikan ANG PAO (amplop merah yang berisi uang) sebagai lambang berkat karunia dan rejeki yang berlimpah pada masa-masa mendatang.

4.      Mulai hari kedua setelah Tahun baru Imlek, umat Khonghucu mengadakan renungan suci selama seminggu dengan berpantang makan makanan yang mengandung daging (vegetarian/CIAK CHAI) untuk memperluas cinta kasih kepada sesama mahluk hidup dan lingkungan hidup alam semesta, bersuci diri guna menyambut sembahyang besar ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa (KING THI KONG) pada tanggal 8 menjelang tanggal 9 bulan I Imlek mulai pukul 23.00 – 01.00. Pada upacara sembahyang bisa mulai umat Khonghucu berprasatya dan sembah sujud ke hadirat Tuhan yang Maha Esa dengan ritual agung yang diakhiri dengan SAN KWI KYU KHAO (3X berlutut dan 9  menundukkan kepala).

5.      CAP GO MEH/Malam Purnama tanggal 15 bulan I Imlek, merupakan malam penutupan perayaan tahun baru Imlek, dimana umat Khonghucu berhimpun bersama menyampaikan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa di tempat ibadah umum, baik di Klenteng maupun di Lithang. Seusai sembahyang bersama, menikmati hidangan khas yang disebut Lontong CAP GO MEH, yaitu lontong opor ayam. Tradisi semacam ini adalah khas Indonesia sesuai Local Genius umat Agama Khonghucu berkembang dan beradaptasi dengan kebudayaan lokal/setempat.

Jadi, bagi umat Khonghucu, Tahun Baru Imlek sangat penting dan suci untuk mawas diri dan mempertebal iman kepad Tuhan selaku Khaliknya, Pencipta alam semesta dan isinya, dimana semua umat membulatkan tekad dan melaksanakan tugas dan kewajiban hidup sebagaimana yang telah Tuhan firmankan. Selanjutnya mengelola dan mengatur alam sekitarnya demi kerukunan dan kemajuan bangsa dan tanah air.

Dengan semangat tahun baru Imlek 2558, marilah kita bulatkan tekad untuk mawas diri dan turut menyukseskan pembangunan mental, spiritual, maupun mencapai tahapan yang lebih maju guna membangun bangsa dan tanah air, agar tercapai masyarakat adil, makmur, damai, sejahtera lahir dan batin, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.